Skip to main content

KARYA ILMIAHKU

Pengaruh Globalisasi Terhadap
Gandrung Terop di Desa Kemiren Banyuwangi
oleh: Eka Septiani Dewi


             Banyuwangi adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur tepatnya di ujung timur pulau Jawa. Sehingga Kabupaten Banyuwangi mendapat julukan The Sunrises of Java. Banyuwangi memiliki wilayah yang strategis dengan batas disebelah barat dan utara dengan Kabupaten Jember, Bondowoso dan Situbondo, sedangkan disebelah timur dan selatan dibatasi dengan Selat Bali dan Samudera Indonesia. Sebagian besar batas Banyuwangi dikelilingi lautan dan sisanya dikelilingi gunung dan hutan. Penduduk Banyuwangi memiliki  beragam suku, mulai suku Jawa, suku Madura dan suku asli yang disebut dengan suku orang Using (masyarakat Using).
              Ironisnya, sebagai suku asli di Kabupaten Banyuwangi, suku Using ternyata dipandang sebelah mata oleh masyarakat tertentu dan pandangan negatif sering ditujukan pada suku Using tersebut. Kebanyakan orang memandang dan memprasangkai bahwa orang Using adalah sosok masyarakat yang kasar (tidak punya tata krama), longgar dalam nilai-nilai etika terutama yang berkaitan dengan hubungan dengan lawan antarjenis, dan memiliki ilmu ghaib destruktif yang disebut santet, pelet, sihir dan sebangsanya. Itu semua tanggapan negatif terhadap masyarakat using.

            Sisi positif masyarakat Using yang perlu ditonjolkan juga tidak sedikit. Ragam budaya yang dimiliki masyarakat Using sangat bervariasi dan bahkan ada yang dikenal luas oleh masyarakat luar. Satu diantaranya adalah seni tari. Tari Gandrung merupakan seni tari yang populer di Banyuwangi sehingga menjadikan tarian ini sebagai maskot Kabupaten Banyuwangi. Tetapi, semakin maju teknologi yang ada pada zaman seperti sekarang ini seakan-akan menuntut seluruh masyarakat utamanya masyarakat Banyuwangi agar tidak ketinggalan zaman tetapi yang terjadi ternyata tidak sesuai harapan  justru  yang terjadi pada saat ini adalah kebalikannya. Maka dari itu, sebagai masyarakat Banyuwangi, kebudayaan daerah harus tetap dijaga dan dilestarikan. Misalnya, Tari Gandrung. Di Banyuwangi terdapat bermacam-macam Tari Gandrung.  Contohnya, Jejer Gandrung, dan Tari Gandrung Terop. Namun, karena budaya Tari Gandrung Terop ini sudah nyaris punah, oleh karenanya, diangkatlah  budaya Tari Gandrung Terop ini agar masyarakat sadar terhadap keberadaan budayanya.



Tari Gandrung Terop

             Tari Gandrung adalah seni tari khas masyarakat Using yang sangat populer dan sekarang menjadi tarian khas dan juga maskot Kabupaten Banyuwangi. Lahirnya kesenian Gandrung bersamaan dengan sejarah Kerajaan Blambangan mengusir penjajah Belanda. Asal mula penari Gandrung ialah laki-laki, yakni sisa-sisa pasukan Kerajaan Blambangan. Tari Gandrung selain menyajikan pentas seni tradisional khas Banyuwangi juga berisi nyanyian perjuangan menggunakan Bahasa Using. Dalam perkembangannya, Tari Gandrung berubah menjadi tarian adat khas Banyuwangi. Tarian yang sangat populer dan sudah terkenal sampai ke Mancanegara. Dalam kreasi terbarunya, Tari Gandrung pernah pentas di Kanada, Amerika Serikat, sebagai misi kebudayaan bangsa dan juga duta bangsa Indonesia. Lewat seni tradisional Gandrung ini, pesan-pesannya disampaikan dengan menggunakan Bahasa Using, sehingga masyarakat memiliki motivasi dan semangat dalam melakukan pekerjaan sehari-hari mereka. Tentu kita sebagai masyarakat  Banyuwangi harus bangga akan budaya-budaya yang dimiki.
           Tetapi pada saat ini  bersamaan dengan masuknya era globalisasi yang semakin maju dan canggih justru sangat berpengaruh dan berdampak besar terhadap budaya Banyuwangi, khususnya Tari Gandrung Terop. Sebuah tarian tradisional khas Banyuwangi yang nyaris punah. Tari Gandrung Terop adalah sebuah tarian tradisional Banyuwangi yang dipertunjukkan khusus untuk masyarakat di Banyuwangi yang akan melakukan hajat pernikahan atau hajat khitanan. Disebut Gandrung Terop karena pertunjukan gandrung di acara hajatan tersebut tidak menggunakan panggung, tetapi hanya menggunakan tanah sebagai latar pertunjukannya. Alasan tidak menggunakan panggung karena, agar kelihatan keasliannya dan bisa dinikmati oleh pengunjung ataupun penonton dimanapun dan kapanpun. Tari Gandrung Terop yang dipertunjukkan, biasanya terdapat di desa Kemiren. Sebuah desa yang terletak di Banyuwangi yang kental akan ragam budaya tradisionalnya, serta wilayahnya yang sangat nyaman. Biasanya pertunjukkan Tari Gandrung Terop ini berlangsung selama semalam. ‘’Ayooo.. teeek... gyarapeeen Podho Nonton, berangkaaaaaat..!!!’’. Itulah teriakan tukang Kluncing, yaitu seorang pemandu penari Gandrung dan pemandu musik dalam pertunjukan Gandrung Terop tersebut. Itu adalah sebuah pertanda bahwa pertunjukan tersebut akan segera dimulai. Sambil melantunkan gendhing Podho Nonton pertanda dimulainya pertunjukan, Sang penari Gandrung mulai menari di atas tanah sambil mengikuti alunan dan irama musik yang dimainkan. Dalam pertunjukan gandrung seorang penari gandrung seringkali melantunkan pantun-pantun Using baik yang terdiri dari dua larik maupun empat larik. Pantun-pantun tersebut ada yang bernuansa agama dan ada pula yang bernuansa asmara. Tukang Kluncing juga sebagai pemukul alat musik triangle yang juga sebagai komandan penari gandrung dan juga para musisi Gandrung. Selain hafal semua Gendhing-gendhing yang dibawakan penari Gandrung, tukang Kluncing juga hafal ketukan-ketukan nada dan irama kendang pada pertunjukan Gandrung. Sebelum menyanyikan gendhing Podho Nonton di awal pertunjukan, penari Gandrung menarikan tarian wajib, yaitu tari Jejer Gandrung. Lemparan sampur (selendang) beserta gerakan dan goyangan sang Gandrung terlihat seirama dengan musik yang ditabuh.  Salah satu faktor dari keunikan seni gandrung ialah terpadunya gerakan tari yang dinamis dengan suara instrumen yang beragam dan bersuara rancak bersahut-sahutan. Sehingga membuat penonton merasa terhibur, senang sekaligus  kagum atas Budaya Banyuwangi yang hampir punah ini. 
            Disisi lain, pada saat ini masyarakat  Banyuwangi yang akan melakukan hajatan, justru lebih memilih menggunakan musik modern seperti karaoke dan elekton. Seakan-akan masyarakat Using sekarang ini lebih menyukai kebudayaan yang nontradisional. Hal ini merupakan salah satu dampak dari perkembangan era globalisasi dan teknologi yang semakin canggih dan modern. Perkembangan budaya luar sangat berdampak pada nasib seni tradisional daerah Banyuwangi yang semakin lama semakin memprihatinkan. Demikian pula dengan kesenian Gandrung Terop ini. Bahkan kebanyakan masyarakat Banyuwangi sekarang ini enggan dan malu untuk melestarikan dan menjaga budaya asli dari daerahnya sendiri yang nyaris saja punah. Kebanyakan dari mereka lebih menyukai kebudayaan yang berasal dari luar yang bersifat nontradisional. Di kalangan remaja contohnya, mereka enggan untuk lebih menyukai dan bahkan malu untuk melestarikan budaya daerahnya sendiri  yang bersifat tradisional. Mereka lebih menyukai dan menikmati kebudayaan yang dipengaruhi oleh lingkungan luar yang lebih modern. Contohnya Dance atau Break dance. 
            Pengaruh teknologi yang canggih terhadap kesenian tradisional Banyuwangi akan sangat berdampak besar bagi masyarakat-masyarakatnya. Jika tidak pandai dalam memilih mana yang benar dan mana yang salah, bisa saja batas-batas budaya Banyuwangi semakin memprihatinkan. Kondisi ini akan mempengaruhi keberadaan budaya nasional, termasuk budaya dari Using yang hampir tidak lagi dilestarikan oleh masyarakat Banyuwangi. Sehingga Kebudayaan asli Banyuwangi ini hampir punah dan hilang terombang-ambing oleh pengaruh tersebut. Menghadapi kenyataan tersebut, para pencipta tari menciptakan tari kreasi baru yang ternyata digandrungi para remaja di sekolah-sekolah maupun di masyarakat di tengah gebyarnya budaya luar saat ini. Target jangka waktu panjang tentunya diharapkan dapat ikut memacu masyarakat Banyuwangi agar mau menjaga, melestarikan serta peduli terhadap budaya-budayanya. Ada kalanya, boleh-boleh saja mengikuti arus globalisasi sekarang ini. Tetapi tetap saja yang dipilih adalah yang dampaknya bersifat positif dan bermanfaat bagi masyarakat Banyuwangi. Akan Tetapi, kita tetap tidak boleh melupakan budaya-budaya dari daerah sendiri. Justru dengan tetap menjaga, melestarikan bahkan peduli terhadap budaya-budaya Banyuwangi yang sangat kaya dan bervariasi ini, kita sebagai masyarakat Banyuwangi harus bangga.
          Selain itu, dengan tetap peduli terhadap budaya daerah sendiri akan terdapat  banyak keuntungan bagi daerah Banyuwangi serta masyarakat Banyuwangi. Contohnya, dengan tetap melestarikan budaya-budaya ini, kita dapat memperkenalkan kesenian-kesenian daerah kepada masyarakat nonlokal maupun masyarakat atau turis luar bahwa Kabupaten Banyuwangi ini mempunyai tarian-tarian yang bervariasi, dan juga dapat  menambah nilai ekonomi bagi masyarakat yang meminatinya dengan cara menjadi penari Gandrung bahkan jika penari tersebut sudah dikatakan profesional itu juga akan dapat menambah keuntungan yang sangat besar bagi diri mereka, serta dapat memperkenalkan dan mempromosikan produk-produk daerah kepada masyarakat nonlokal maupun turis asing yang sedang berkunjung ke Banyuwangi. Apalagi belakangan ini,   Banyuwangi merupakan wilayah yang sering dijadikan tempat sesinggahan turis-turis nonlokal maupun  asing yang akan berkunjung ke Bali. Maka dari itu, kesempatan-kesempatan ini harus bisa di manfaatkan sebaik mungkin. Target jangka waktu panjang tentunya diharapkan dapat ikut memacu seluruh masyarakat Banyuwangi agar mau menjaga, melestarikan serta peduli terhadap budaya-budayanya. Dengan mengenal kesenian dan kebudayaan serta sejarah masa lalu Banyuwangi, diharapkan dapat membantu penyegaran budaya Banyuwangi dan dapat mendekatkan generasi-generasi muda pada budaya-budaya yang ada di Banyuwangi. 
            Harapan masa depan bangsa terletak pada generasi mudanya, Jika jiwa patriotisme pemuda peduli pada bangsanya maka dia akan berbuat yang terbaik untuk bangsanya. Perwujudannya yaitu dengan belajar giat, tekun, rajin serta tidak berputus asa. 

Comments

Popular posts from this blog

KUMPULAN PUISI

Unknown, May 2017 Cinta Pandang Pertama Oleh : EKA SEPTIANI DEWI Tak begitu peka terhadap sekitar Membuat penglihatan terfokus hanya searah Di luar dugaan ternyata Toh. . aku menemukannya Tak ku sangka seketika Ku mulai menyukainya Entah mengapa Aku pun tak kuasa Mencari tahu datang darimana Hanya seketika Ku mulai mencinta Tak kuasa ku menguangkapnya Aneh rasanya Bila ia mengetahuinya
TANJUNG KIAOK Batas Pulau Sepanjang Peta Pulau Sepanjang PROFIL TANJUNG KIAOK Letak Desa Tanjung Kiaok berada pada Kepulauan Sepanjang terletak di Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Propinsi Jawa Timur. Pulau Sepanjang merupakan pulau besar di Kepulauan Kangean. Kepulauan Kangean merupakan gugusan puluapulau berjumlah 68 pulau yang membujur dari arah barat ke arah timur pada posisi 6 o 30’ – 7 o 13’ Lintang Selatan dan 115 o 10’ – 115 o 56’ Bujur Timur. Secara administratif Pulau Sepanjang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Sapeken yang terbagi menjadi 9 desa, yaitu Desa Sapeken, Sakala, Tanjung Kiaok, Pagerungan Besar, Pagerungan Kecil, Sabunten, Paliat, Sasiil dan Sepanjang. Pantai Pulau Sepanjang disebelah utara dikelilingi oleh coral reef , sedang pantai disebelah selatan langsung berhubungan dengan laut dalam. Darat...